Saya, Papua, Warna Kulit dan Rasisme








Saya bukan orang Papua, saya bahkan tak pernah bertemu dengan satu pun dari mereka, tetapi pada 16 Agustus 2019 lalu, sehari sebelum Indonesia merayakan hari kemerdekaannya, ketika beberapa (oknum) ormas melakukan aksi penyerangan terhadap Asrama Mahasiswa Papua di Surabaya dengan meneriaki mereka monyet, saya sungguh sakit hati.

Jika ada sebuah alat untuk mengukur kadar sakit hati di dunia ini, maka saya pastikan bahwa sakit hati yang saya rasakan tidak sebanding dengan apa yang teman-teman dari Papua rasakan. Tetapi  sakit hati tidak mengenal sedikit banyak, ia tetap saja menyesakkan dan membuat gerah.

Di antara teman-teman sepergaulan barangkali saya adalah orang yang memiliki kulit paling hitam, sumpah mati saya tidak tahu mengapa kulit saya hitam sebagaimana saya tidak mengetahui mengapa mereka punya kulit yang putih. Sebab warna kulit itulah dari kecil saya sering dicaci, entah itu dihina dengan nada bercanda atau serius—semua sama saja. Bahkan dulu, saat umur saya masih belasan, oleh beberapa gadis saya dicap pemuda paling jelek sekampung. Menyedihkan dan menyakitkan. Tidak jarang pula saya disamakan dengan monyet, atau binatang-binatang lain yang berwarna hitam oleh sekumpulan orang yang menganggap perkataan semacam itu sebagai candaan dan merasa bahwa hal tersebut tak akan menyakitkan hati. Sebagai manusia yang memiliki hati layaknya mereka yang berkulit putih, saya tak bisa menganggap semua caci maki itu sebagai candaan belaka. Kadang saya jengkel dan marah, kadang saya hanya diam dan berkata dalam hati; orang ini tidak pantas dijadikan teman. Segala caci maki itu seringkali membuat saya harus menahan tangis di malam-malam yang memuakkan—terutama ketika saya masih menjadi anak sekolah—saya sering mengeluh kenapa saya hitam, saya jadi malas keluar rumah untuk menghindari matahari, saya memakai segala cara untuk membuat kulit saya setara dengan mereka. Lebih dari itu, saya ingin sekali menemukan orang-orang berkulit hitam lainnya, berbagi sedih dan marah, berteman dengan misi membenci dan menjauhi mereka yang punya kulit putih.

Jika persoalan sekecil itu saja bisa membuat saya sakit hati, maka sungguh saya tak bisa membayangkan apa yang selama ini kawan-kawan dari Papua rasakan; mereka dikatai monyet, dicap pemabuk, keras, bengal, dan banyak hal buruk lainnya sejak lama sekali oleh sebagian dari kita, saudara senegaranya sendiri. Lebih dari itu, kekayaan daerah mereka terus dikeruk, sementara mereka justru seperti ditinggalkan begitu saja.

Jujur saja, saya tak bisa menolak sakit hati yang mereka rasakan (dan reaksi dari mereka) sebagaimana saya juga tak bisa menerima kalau mereka harus memisahkan diri dari republik ini. Bagi saya, sama halnya dengan banyak daerah lain, Papua adalah Indonesia, dan kita harus mempertahankannya dengan segala perbedaan yang ada—bukankah itu yang namanya Bhinneka Tunggal Ika?

“Kamu enggak akan puas dengan nasib kamu sementara di saat bersamaan, saudara-saudara kamu kehilangan hak-haknya,” kata Elisabeth Freeman, seorang suffragist dan aktivis hak-hak sipil Amerika, yang terkenal karena laporan investigasinya untuk NAACP terkait hukuman mati tanpa pengadilan seorang pemuda (17) kulit hitam bernama Jesse Washington.

Rasisme adalah sebuah pandangan yang membeda-bedakan untuk mendiskriminasi antara satu manusia dengan manusia lainnya, entah sebab ras, warna kulit, agama, suku atau ciri-ciri fisik. Tetapi di atas semua itu kita tahu bahwa kita diciptakan dari tangan yang sama; bahwa Dia yang menciptakan selalu punya alasan untuk membuat segala sesuatunya—orang-orang yang berbeda bukan berarti kesalahan dalam penciptaan.

Masalah membeda-bedakan dan merasa lebih baik tersebut mungkin tidak akan pernah habis selama kita hidup di dunia ini, tetapi kita sebagai masyarakat Indonesia yang dikenal ramah oleh orang luar negeri sudah semestinya ramah terhadap saudara kita sendiri. Kita harus memahami bahwa tidak pernah mudah menjadi berbeda dan diasingkan di keluarga sendiri. Kita harus mendalami apa itu yang namanya Bhinneka Tunggal Ika agar kita tidak terjerumus dalam hal yang sama terus menerus.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Matinya Janji Manis

Kenapa Kita Tidak Ikut Berpesta?

Hidup Ini Babi Sekali Rasanya