Kenapa Kita Tidak Ikut Berpesta?
Baiklah. Kisah
ini akan berakhir dengan seorang anak perempuan yang menangis dan memutuskan
untuk membenci ibunya, sebab, meski ia bukan anak tiri dan tak punya dua kakak
tiri yang jahat, ia tetap tidak dibolehkan oleh ibunya untuk pergi ke sebuah
pesta—sebenarnya anak perempuan itu tak tahu siapa yang mengadakan pesta,
mungkin pangeran, raja, orang-orang kaya atau entahlah dia tidak peduli, yang
jelas, pesta itu adalah sebuah pesta yang sangat besar, melibatkan semua orang
di negerinya. Dan dalam sebuah pesta, pesta apa pun itu, harus dirayakan dengan
riang gembira, pikirnya.
“Sepatu
kaca!” teriak anak itu kepada ibunya setelah puluhan kali atau bahkan ratusan
kali sudah ia meminta
hal yang sama. Wajahnya cemberut, kesal bukan main, dan sebagaimana anak kecil
yang permintaannya tak kunjung diiyakan
oleh si ibu, ia pun menangis, tangis cengeng dan memuakkan bagi telinga ibunya.
Dia, Si Anak Perempuan, kita
panggil saja begitu, umurnya baru tujuh tahun, dia tinggal berdua saja dengan
ibunya, ayahnya sudah lebih dulu pergi ke surga, begitu kata ibunya, entah
benar atau tidak, tapi Si Anak Perempuan percaya saja meski ia tak pernah
mengenal ayahnya sendiri.
“Berisik!” bentak Si Ibu keras sekali, dalam keadaan
lapar seperti itu, kadang emosi memang tidak tertahankan.
“Sepatu! Kaca!”
Kakinya melangkah, kaki kecil
seorang gadis perempuan, langkah yang terseret, seperti digantungi oleh beban
yang amatlah berat. Matanya merah. Merah darah. Merah semerah-merahnya merah.
Dunia menjadi sunyi. Hampa. Yang
ada hanya suara isak tangis.
“Besok
ada pesta, Bu!” Si Anak Perempuan merengek.
“Kita
tidak ikut pesta!” balas ibunya.
Kisah
ini sebenarnya dimulai ketika anak Si Anak Perempuan
melihat banyak baliho dan poster bertuliskan pesta rakyat dengan wajah yang
yang berbeda-beda, terpampang di sudut-sudut kota—di pohon-pohon, di tiang-tiang
listrik, di dinding-dinding warung, semuanya menyerukan pesta ini. Anak
perempuan itu tak begitu lancar membaca, tapi ia tahu pesta rakyat. Lagian orang-orang
pun juga membicarakan hal yang sama, ia mendengar itu dari orang-orang yang
mengobrol di warung ketika sedang mencari makan siang hari tadi. Ia tersenyum. Pesta besar, gumamnya, sepatu kaca!
“Sepatu...” rayunya lagi malam itu.
“Tak
ada!” potong si ibu.
“Harus ada!”
Ibunya
pernah membacakan kisah itu, tentang seorang anak perempuan yang punya ibu dan
dua kakak tiri, ia anak yang baik meski kerap diperlakukan dengan tidak adil.
Suatu hari, dalam dongeng yang dibacakan oleh ibunya itu, istana mengadakan
pesta, pesta yang sangat besar, mengundang semua orang.
Pesta
besok pasti sama besarnya dengan pesta yang ibu ceritakan dulu, batin Si Anak
Perempuan mengingat-ngingat cerita tersebut. Ia tersenyum lagi, kali ini lebih
lebar. Aku akan berdansa dengan pangeran, kata dia pada Si Ibu dengan tawa
kebahagiaan. Sejak itulah anak perempuan itu meminta sepatu kaca pada ibunya. Ibunya
garuk kepala. Anakku sudah mulai mengkhayal yang tidak-tidak, pikirnya, pasti
karena belum makan.
“Kenapa kita tidak ikut berpesta?”
Cinderella.
Itulah kisah yang ia bacakan pada si anak. Satu-satunya dongeng yang pernah ia
baca. Mungkin ia tahu beberapa dongeng, seperti kancil dan buaya atau tentang
beberapa kisah kancil lainnya. Tapi dongeng-dongeng tersebut tak pernah ia
baca, ia hanya mendengar dari cerita-cerita orang, sisanya entah dari mana. Kadang
ia juga menceritakan pada anaknya tentang kancil yang membodohi kecoa, tentang
kancil yang mencuri labu, atau tentang kancil yang menipu pocong, dan banyak
lagi cerita kancil lainnya yang pernah ia ceritakan. Tentu saja cerita itu tak
pernah ada dalam khazanah dongeng si kancil, ia hanya mengarangnya sendiri,
demi Si Anak Perempuan, apakah kemudian orang-orang akan marah padanya yang
menambah-nambah cerita tentang si kancil, ia tidak peduli, toh ia hanya
menceritakan dongeng itu pada si anak semata wayangnya. Tapi itulah yang
kemudian terjadi, suatu hari ia mendapati buku tipis di sela-sela sampah tak
ada guna lainnya, cuma fotokopian, berisi kisah tentang seorang anak tiri yang
dikenal dengan Cinderella, yang begitu berhasrat pengin datang ke pesta istana—yang
kemudian dengan sebuah keajaiban yang betul-betul ajaib pergi dengan kereta
kencana dan sepatu kaca. Ia membacakan dongeng itu pada anaknya tiga hari lalu.
Tiga hari sesudahnya anaknya tiba-tiba melakukan hal yang sama, ia begitu ingin
pergi ke sebuah pesta, pesta rakyat, pesta yang jelas sekali berbeda dengan apa
yang ada di dongeng tersebut. Ditambah lagi, si anak pengin pergi dengan sepatu
kaca. S-e-p-a-t-u-k-a-c-a-!
“Tidak
ada yang namanya pesta!” sahut ibunya.
“Tapi
kata orang ada…”
“Itu
pesta buat orang-orang.”
“Kita
tidak diundang?”
Si
Ibu diam. Perutnya berbunyi, nyaring menggelegar, kepalanya mendung sudah
menghadapi anaknya yang kerasukan setan Cinderella, hujan sebentar lagi turun,
hujan yang deras, hujan yang berasal dari langit dan juga matanya.
“Itu
pesta untuk memilih presiden,” jelas Si Ibu. “Bukan seperti pesta yang ada di
kepalamu.”
“Ibu
pasti berbohong,” kata Si Anak Perempuan, “Ibu pasti cuma tak mau membelikan
sepatu kaca.” Ia berhenti berjalan, membiarkan ibunya pergi lebih dulu. “Apa
aku ini cuma anak tiri, Bu?”
Sebentar
lagi tengah malam, jauh di sana, entah di mana, seorang pangeran pasti sedang
menunggunya untuk berdansa. Pangeran itu menunggunya dengan kepala tertunduk
lemas. Benar bahwa banyak gadis-gadis cantik di dalam istana, tapi ia tidak
peduli. Ia menunggu seorang perempuan yang datang dengan kereta kencana dan
sepatu kaca. Si Anak Perempuan yakin itulah yang terjadi di istana, entah di
mana letak istananya, tapi ia yakin itulah yang sekarang terjadi. Benar,
pestanya memang akan dilaksanakan besok, tapi ia yakin bahwa malam inilah pesta
dansa akan diadakan. Anak perempuan itu terkekeh sebentar sebelum akhirnya
mengutuk dengan sumpah serapah terbaik yang pernah ia kenal sepanjang hidupnya:
bodoh! Mengapa peri itu belum datang juga?!
“Tidak
ada yang namanya sepatu kaca!”
“Tapi
Cinderella punya sepatu kaca.”
“Kamu
bukan Cinderella!”
Seharusnya
peri dari kahyangan itu datang sekarang juga, sebelum tengah malam tiba, ia
harusnya datang untuk menghapus air mata Si Anak Perempuan, menenangkannya, dan
bilang bahwa Si Anak Perempuan tak perlu risau karena ia akan membantunya untuk
pergi ke pesta, ia akan menyediakan kereta kuda, gaun bersinar dan sepatu kaca.
Namun peri cantik itu tak juga datang, yang ada sekarang di hadapan anak
perempuan itu cuma seorang wanita lusuh, ibunya sendiri, dan ibunya jelas bukan
seorang peri cantik yang datang dari kahyangan.
“Ibu
tidak sayang aku!”
Mereka
terus berjalan, menyusuri malam, memecah dingin dengan sebuah perdebatan
tentang sepatu kaca dan pesta dansa. Si Anak Perempuan berjalan lambat di
belakang ibunya, ia lapar, haus dan letih, namun terlalu malas untuk bilang
pada ibunya. Ibunya pasti tidak peduli, pikirnya, ia hanya anak tiri, atau
malah anak pungutan dari bak sampah. Ibunya pasti tak sayang dengan dirinya,
begitulah yang ada di benaknya.
Si
ibu mengembuskan napas, berusaha mengeluarkan segala beban pikiran yang ada
pada dirinya, ia berhenti, memandangi anaknya. Ia peluk anaknya dan bilang,
“Ibu sayang kamu.” Ia lantas mencium pipi si anak, mengusap rambutnya yang kering
dan merah. “Cinderella itu tidak nyata—tidak ada yang namanya peri dan sepatu
kaca seperti itu di dunia ini.”
Si Anak Perempuan menangis.
Mereka
berhenti sebentar demi menghilangkan rasa penat, ibunya menawarkan minum pada Si
Anak Perempuan, tapi ia menolak—ia tak ingin minum sekarang, ia ingin sepatu
kaca dan pesta dansa.
“Ayolah,
anak ibu tak boleh cengeng begini.”
“Aku
mau sepatu kaca..!!”
Mendengar
itu, Si Ibu tiba-tiba tertawa. Keras sekali. Ia tertawa dan menangis, keduanya
tercampur. Ia tak tahu lagi harus berbuat apa (tapi bukankah memang segala
sesuatu dalam dunia ini harus ditertawakan, baik yang lucu atau yang menyayat
hati) maka dari itu ia memilih tertawa, siapa tahu dengan begitu masalah dapat
selesai, harapnya. Ia terus tertawa dan menangis. Kepalanya terasa sakit,
pandangannya buram.
“Bu..”
panggil anaknya, berusaha menyadarkan ibunya dari tawa dan tangis yang aneh
tersebut. “Ibu baik-baik saja?”
“Diam!”
sahut ibunya sambil melotot, ia lantas melanjutkan lagi tawa dan tangis itu—ia
tidak peduli akan kenyataan bahwa beberapa orang mulai melirik ke arahnya.
Si
Anak Perempuan lantas terdiam seketika. Air mata merembes, ia menangis juga,
tapi tidak sambil tertawa seperti ibunya. Dalam kepalanya berbagai macam bentuk
pertanyaan terbentuk—tentang mengapa ibunya berlaku seperti itu, tentang
kebohongan, tentang sepatu kaca dan peri kahyangan. Pertanyaan-pertanyaan itu
berlarian, berhimpitan, sesak, membuatnya bingung, dan yang keluar kemudian
dari mulutnya hanya satu teriakan.
Si
anak berteriak tidak jelas, Si Ibu tertawa dan menangis. Lengkap sudah. Malam
itu semuanya menjadi kacau. Tak lama lagi tengah malam akan lewat, dan hujan
mulai turun membasahi mereka berdua. Lampu-lampu jalan meredup, dingin tiada
tertahan, tak ada peri dan seorang pun penyelamat pada malam sembab seperti
itu. Oleh beberapa orang, hujan tersebut telah dibayangkan dari beberapa minggu
yang lalu, dan malam itu ia datang menemui kedua anak dan ibu itu di pinggir
jalan, tanpa atap, baju keduanya basah dan mereka terlalu malas untuk
pindah—keduanya masih larut dalam kesedihannya masing-masing. Petir menyambar,
nyaring sekali, entah dari mana datangnya, bisa jadi dari langit atau dari
perut mereka.
“Bu,
kenapa peri belum datang juga,” tanya Si Anak Perempuan akhirnya di antara
gemetarnya, “aku mau sepatu kaca.”
Hujan
turun semakin deras, tak jauh dari mereka duduk, kendaran silih berganti lewat.
Segala
sesuatu menjadi kacau sekarang, bahwa tak sekali pun ia berpikir suatu dongeng
dapat membuat anaknya jadi begini. Ia pusing. Barangkali tidak seutuhnya karena
perilaku Si Anak Perempuan. Tapi ia pusing. Mereka belum makan, dan sekarang
pakaian mereka basah. Ia bisa saja tak mengindahkan perilaku anaknya yang
kepalang gila karena Cinderella tersebut. Tapi tak bisa, sebab yang ia sedihkan
justru hal semacam ini: mengapa ia tak bisa membeli sesuatu yang anaknya inginkan.
“Diam!”
Kini ia benar-benar menangis. Cuma menangis. Tak ada lagi tawa di sana. Ia
marah, dan tak tahu marah kepada siapa; kepada anaknya, kepada dirinya, atau
justru kepada Tuhan yang menempatkannya dalam situasi sialan tersebut.
“Aku
mau sepatu kaca!” Si Anak Perempuan terus saja merengek.
“Tidak
ada yang namanya sepatu kaca!”
“Pokoknya aku mau sepatu kaca!”
“Berisik!”
Ia mengambil sandal dan mengancam Si Anak Perempuan. “Kita cuma punya gerobak
reot!”
“Tak
adakah sepatu kaca dalam gerobak reot?”
Plak. Satu pukulan dari sandal mendarat di pipi kanan Si
Anak Perempuan. Tapi Si Anak Perempuan tak peduli dan ia tetap ngotot minta
sepatu kaca.
“Pangeran
sedang menunggu...”
“Kau
sudah gila!” Ia masih dan akan terus menangis—tak ada lagi yang bisa ia lakukan
selain menangis.
“Tapi...”
“Tak
ada sepatu kaca!”
“Tapi...”
“Dasar anak pemulung sinting!”
Lalu,
semuanya hening seketika. Keduanya menangis dalam senyap. Kota telah larut
dalam kehampaan. Sunyi. Sunyi sepi. Suatu sunyi yang asing bagi dua orang yang
hidup dalam kesunyian. Tiada kereta kencana. Tiada sepatu kaca. Tiada hal lain
selain kesunyian. Dan begitulah, semuanya begitu cepat terjadi, Si Anak
Perempuan lari secepat bisa, ia putuskan untuk membenci dan meninggalkan
ibunya, ia akan cari sendiri sepatu kaca dan pesta dansa itu. Ia lari. Si Ibu
memanggil anaknya, ia teriak dan berusaha untuk mengejar, namun yang terjadi
tak lebih dari sekadar gerakan tak jelas—ia terhuyung dan jatuh ke tanah. Saat
itulah, dunia tiba-tiba menjadi bisu, atau, telinganya yang justru menjadi
tuli. Entahlah.[]
2019
*diterbitkan di Radar Banjarmasin
Komentar
Posting Komentar