Matinya Janji Manis
Usai sudah, Janji Manis, gadis cantik yang dipuja-puja itu, kini
telah tiada. Dia mengembuskan napas terakhirnya pagi ini di rumah Pak Kepala
Desa Harapan Maju, dengan tubuh yang mendadak menjadi kuning langsat, sedikit peluh
nampak pada ujung hidung dan dahinya, wajahnya teduh dan menenangkan. Gadis
berambut hitam jelaga itu mati dengan satu senyum yang begitu memesona, manis
dan memabukkan, tubuhnya harum melati, semerbak berembus ke berbagai arah dalam
radius yang amatlah jauh.
Kalau boleh protes,
maka tentulah mereka, para warga Desa Harapan Maju itu, akan mengadakan protes
kepada Tuhan bersama-sama dengan berbagai macam persembahan apa pun yang Dia
inginkan. Mengapa Dia mematikan gadis itu? Mengapa harus secepat ini? Adakah
Dia tak sayang kepada warga desa itu sehingga dengan begitu tega mematikan
pelita di antara mereka?
Tapi, kata seorang
lelaki yang telah berumur, umur tak ada yang tahu selain Tuhan. Dan tak ada pula
yang bisa menghidupkan seseorang yang telah mati melainkan Tuhan.
“Tapi di antara kita jelas tak ada
Tuhan, Pak!” kata Waluyo, dia merupakan lelaki jangkung berumur empat puluh
enam tahun, punya lima anak dan satu istri—yang kini tengah mengandung anak
keenamnya. Hidupnya, sebagaimana kebanyakan warga Desa Harapan Maju yang lain,
hanya bergantung pada hasil tani belaka—dan miskin pula. Namun di atas itu,
Janji Manis merupakan satu orang yang sangat berjasa buatnya dalam menjalani
hidup yang demikian susah tersebut. Gadis itu menurutnya merupakan matahari
saat siang, dan bulan saat malam datang. Ia begitu tertolong berkat gadis itu.
Meski pun kenyataannya, gadis itu tak pernah menolong secara langsung
kepadanya—juga kepada orang selainnya, dan bahkan menghabiskan hari-harinya
hanya dalam kamar dan rumah belaka. Tapi sungguh, dia amat tertolong karena
gadis itu, sebagaimana juga warga Desa Harapan Maju lainnya yang merasa amat
sangat beruntung karena kedatangan seorang gadis cantik bermata salju tersebut.
Desa Harapan Maju terletak jauh di
pojok negeri ini, terisolasi dari banyak orang dan jauh dari peradaban. Seorang
dari mereka pernah berkata, bahwa jika di desa lain dunia telah sampai pada
abad ke XXI, maka di desa itu barulah sampai pada pertengahan abad XX.
Perumpamaan ini memanglah sangat keterlaluan, Desa Harapan Maju tentunya tak
separah itu keadaannya. Hanya saja, desa ini juga tak maju—seperti namanya,
maju hanyalah harapan yang tak kunjung selesai.
“Seharusnya kita ubah saja nama
kampung ini menjadi Desa Maju, supaya maju tak hanya jadi harapan bagi kita!”
kelakar satu pemuda yang punya tubuh krempeng dan mata nampak selalu lelah itu.
Semua obrolan yang tak ada syukurnya
sama sekali itu tentu saja terjadi sebelum datangnya seorang gadis belia
bermata indah, Janji Manis. Ya, Janji Manis. Namanya menjadi tenar bahkan tak
lama setelah kehadirannya di desa itu. Ia datang dari desa lain yang jauh di
sana, meninggalkan semua kesenangan yang dulu dia miliki untuk satu tujuan:
membahagiakan warga Desa Harapan Maju.
Adalah Pak Kepala Desa yang kali
pertama mendatangkannya. Itu terjadi lima tahun lalu, ketika Desa Harapan Maju
telah benar-benar sekarat sebab tikus kurang ajar yang tak tahu adab datang
menyerbu seluruh padi warga. Seluruhnya! Tikus-tikus itu datang bergerombol,
menggerogoti batang-batang padi muda dan membikin Desa Harapan Maju gagal
panen. Perekoniman sekarat. Banyak warga yang akhirnya mesti makan ubi-ubian,
tanaman liar, atau bahkan jelatang yang gatalnya tak tertolong itu.
Warung-warung mesti tutup, sebab tak ada pembeli yang mampu membeli dagangan
mereka. Itulah saat-saat yang amat sangat memprihatinkan bagi desa itu. Banyak
orang mulai sakit dan gila, bahkan tak sedikit yang mati kelaparan.
Hingga sampailah dalam satu
musyawarah alot yang memuakkan, para warga berdebat tentang masalah ini. Ada
yang mengatakan mereka telah kualat pada tikus, sebab sering kali petani
membunuh tikus tanpa henti dan membakar mereka hidup-hidup. Satu yang lain
menjawab bahwa tikus tak bikin kualat, tikus ya tikus, ia binatang, sama saja
seperti babi, atau anjing.
“Yang bikin kualat itu Tuhan,” kata
seorang dengan sorban yang melingkar besar di atas kepalanya, “coba diingat
lagi, kapan kita salat berjamaah? Kapan masjid kita penuh saat Jumat tiba? Coba
pikirkan!”
“Tapi Tuhan tidak makan padi, Pak!” kata
seorang ibu, dia punya rambut yang seutuhnya menjadi putih, giginya kuning
kemerahan karena kebiasaan mengunyah pinang yang tiada berkesudahan itu. “Jadi,
mana mungkin Tuhan mengambil padi kita kalau Dia saja tidak makan padi?”
“Ya, memang, Tuhan tidak makan padi, Bu,”
jawab orang itu, “tapi kita ini milik Dia, padi yang kita tanam itu juga milik
Dia. Mungkin kita selama ini telah begitu abai dengan ajarannya, itulah mengapa
dia mau menegur kita dengan membikin desa ini gagal panen.”
“Mengapa mesti lewat tikus Dia
menegur kita? Bukannya Tuhan punya malaikat?”
“Bisa saja tikus itu adalah jelmaan
dari malaikat,” jawab asal seorang peserta musyawarah.
“Masa iya tikus kurang ajar begitu jelmaan
malaikat?” tanya ibu itu lagi.
“Siapa tahu?”
“Berarti dari sekarang kita harus
memuliakan para tikus?”
“Ya! Kita harus memuliakan para
tikus!”
“Kita juga harus berdoa pada Tuhan
agar musibah ini dihilangkan!” Suara lelaki dengan sorban besar itu memecah
keributan tak ada arti tersebut.
“Ya, kita harus sering-sering pergi
ke surau dan masjid dari sekarang! Wajib!” titah Pak Kepala Desa menutup
musyawarah itu.
Dimulai saat itulah akhirnya warga
Desa Harapan Maju membikin rumah-rumah Tuhan ramai lagi, berdoa tiada henti
pada malam dan siang. Sampai pada satu hari tak lama setelah taubat masal yang
dilakukan warga desa itu, datanglah Pak Kepala Desa dengan satu orang anak
berumur sepuluh tahun. Anak perempuan yang amboi cantiknya tak bisa dikalahkan
bahkan jika seluruh kecantikan para wanita di desa itu disatukan. Matanya bulat
dan jernih sejernih sungai tempo dahulu, rambutnya hitam pekat, ikal
bergelombang mengikat hati. Hidungnya mancung nampak seperti jelmaan
orang-orang arab. Pipinya putih kemerahan, bergelembung penuh keajaiban. Warna
kulitnya putih bersih. Dan cobalah untuk menyentuh kulitnya yang lembut itu,
aduhai, lalat pun tak akan dapat hinggap di sana. Sungguh tak ada cela satu pun
yang didapat dari anak perempuan itu.
Orang-orang kemudian mulai
berdatangan ke rumah Pak Kepala Desa, bukan untuk sowan pada dirinya,
melainkan untuk melihat penampakan bidadari itu. Sungguh benar, tiap kali
mereka melihat anak perempuan itu, niscaya bertambah-tambahlah semangat mereka
untuk menjalani kehidupan.
Pelan setelah
kedatangan anak perempuan itu, Desa Harapan Maju mulai mendapatkan harapannya
kembali untuk maju. Semangat untuk terus bekerja seakan terpompa setiap harinya
oleh karena keberadaan anak perempuan tersebut. Di lain sisi, tempat-tempat
ibadah pelan juga mulai ditinggalkan. Keberadaan Tuhan mulai tergantikan oleh
satu orang anak perempuan yang amat sangat cantik itu: Janji Manis.
“Anak ini adalah
anak turunan ningrat,” kata Pak Kepala Desa dulu pada kali pertama dia mengenalkan
Janji Manis di hadapan warganya. Dia lalu menjelaskan bahwa anak itu merupakan
keturunan ke empat dari Janji Manis I dari desa nun jauh di sana, orang-orang
itu merupakan keluarga yang amatlah kaya. Rumahnya besar bak istana. Kendaraan
sudah tak terhitung jumlahnya. Ke mana pun anak-cucu keturunan itu pergi, maka
sungguhlah, tempat yang ia pijak itu akan makmur sentosa. Banyak menara-menara
tinggi yang menjulang menembus langit di desa mereka, lanjut Pak Kepala Desa. Keluarga
Manis ini merupakan tokoh dibalik suksesnya perekoniman desa-desa di negeri ini.
“Apa yang bisa dia lakukan? Apakah dia akan
ikut saya membajak sawah?” tanya seorang warga.
“Dia akan duduk saja, di sini” jawab Pak
Kepala Desa dengan satu anggukan yang pasti, senyum mengambang dari wajahnya,
senyum yang tulus sekali—seperti senyum orang yang dalam hidupnya seakan tak
pernah melakukan dosa sama sekali.
“Duduk saja?”
“Ya!”
Warga saling melempar pandang, mata
mereka saling tatap dan membagi kebingungan yang amatlah kurang ajar itu. Satu-dua
orang menggaruk-garuk kepala, ada yang saling berbisik dengan teman duduknya:
“Masa iya dengan hanya duduk di
sini, anak itu bisa membantu kita?”
“Bisa saja, mungkin Janji Manis
keturunan bidadari.”
“Apakah bidadari kerjanya cuma
duduk?”
“Aku ndak tahu, mungkin saja
begitu.”
Sementara itu, Pak Kepala Desa,
dengan begitu tega menggantung jawabannya, menyimpan bagian terbaik untuk akhir
yang memuaskan. Ia senyum, senyum yang tak kalah kurang ajar dari kebingungan
para warganya.
“Tenang, tenang!” kata lelaki dengan
pipi serupa bakpao tersebut,”biar saya jelaskan dulu. Janji Manis memang hanya
akan duduk di sini, dia tidak akan ikut pergi ke sawah atau ke kebun, dia hanya
akan duduk santai di sini. Begitulah cara kerja Janji Manis, sebab dengan
kedatangannya ke desa kita saja sudah merupakan berkah yang tiada terhitung!
Paham?”
“Jadi, Janji Manis ini maksudnya
akan menjadi semacam anak pembawa berkah buat kita, Pak?”
“Iya, betul!”
Itulah saat semua orang mulai tunduk
dan hormat pada gadis itu, kendati memang pada kenyataannya tak banyak yang
berubah setelah kedatangannya, tapi mereka peduli setan dengan hal itu. Pada
setiap pagi mereka akan berangkat lebih dini—saat matahari bahkan belum nampak
sama sekali, dan akan pulang saat gelap telah luruh menyentuh bumi. Suatu hari
beberapa tahun yang akan datang, desa kita akan berkembang dan sangat maju,
kata mereka. Warga amatlah sangat percaya kehadiran Janji Manis akan berdampak
baik, sebagaimana semua itu terlihat di desa-desa lain.
Sementara itu, seiring waktu berlalu,
Janji Manis tumbuh jadi anak gadis yang cantik jelita. Tubuhnya langsing
berisi, matanya bersinar terang nampak seakan-akan bintang tertanam di dalam
sana, hidungnya sungguh menggoda, tutur katanya lembut, dan suaranya merdu
semerdu Nabi Daud dalam kisah-kisah klasik. Dan, oleh karena kecantikan yang
tiada tertandingi itu, makin dicintai orang lah dirinya, di puji seperti
bidadari, dipuja bagai dewi.
Lima tahun berlalu, lima tahun! Dan
semuanya sirna pada satu pagi yang brengsek, dengan tiba-tiba kabar kematiannya
menyebar ke semua orang—diumumkan penuh tangis dan diterima dengan duka yang
tiada tertangguhkan adanya.
“Akhir-akhir ini memang dia sedikit
tidak sehat,” jelas Pak Kepala Desa, “tubuhnya terasa panas dan matanya
memerah.”
“Masa cuma karena begitu doang anak
itu mati, Pak?” protes salah seorang warga dengan tangis yang membanjir.
Itulah saat akhirnya seorang lelaki
tua, dengan sorban yang melingkar besar di kepalanya itu berkata, “Tak yang
tahu umur seseorang selain Tuhan!”
“Bapak, kan, orang saleh, Bapak
tolonglah hidupkan kembali si Janji Manis agar dia bisa memberi berkah lagi
pada kampung kita!” pinta seorang warga bernama Waluyo. Warga yang lain turut
mengiyakan.
Lelaki tua itu mengusap wajahnya dan
berkata bahwa tak ada yang bisa menghidupkan selain Tuhan. Sementara Waluyo,
seperti mana yang kita tahu, dengan emosi yang tiada tertahankan berkata bahwa
tak ada seorang pun Tuhan di antara mereka.
“Itu artinya Janji Manis tak bisa
untuk dihidupkan kembali!” tutup si lelaki tua.
Tentulah para warga gelisah bukan
main karena hal itu, desa mereka belum juga berkembang pesat, kini mereka harus
ditinggalkan satu-satunya harapan mereka—dewi keberuntungan mereka: Janji
Manis. Kesedihan melanda, langit nampak muram, suasana desa hari itu sungguh
amat sangat kelam adanya.
“Dia masih amat belia,” kata seorang
kakek dengan air mata yang deras sekali turun melintasi pipi keriputnya.
“Ya, Tuhan tidak adil, seharusnya
yang tua yang lebih dulu mati,” jawab seorang pemuda dengan kesedihan serupa.
“Tenang! Tenang!” suara Pak Kepala
Desa menggema, terdengar tegar dan berwibawa. Para warga diam dan mengalihkan
perhatian padanya.
“Mungkin memang hari ini Janji
Manis, gadis yang amat sangat kita cintai ini, telah tiada. Tapi yakinlah, pada
satu hari tak lama setelah hari yang menyedihkan ini, dari rahim wanita-wanita
cantik keturunan ningrat yang kaya raya, akan lahir kembali Janji Manis-Janji
Manis lainnya, harapan-harapan lainnya! Yakinlah! Dalam waktu yang tak lama,
gadis itu akan datang ke desa kita, membawa berkah dan keuntungan yang besar
untuk kita semua! Yakinlah!”
Sedemikian berwibawanya Pak Kepala
Desa itu sehingga membikin semua warga bergeming mendengarnya.
“Ya, Pak Kepala Desa ada benarnya
juga,” kata orang tua dengan sorban besar itu lagi. “kendati Janji Manis telah
benar-benar kita cintai, namun kita tahu bahwa tak ada orang mati yang bisa
dihidupkan kembali. Jadi kita harus menerima semua ini dengan lapang dada,
sambil berdoa dan berharap perkataan Pak Kepala Desa ada benarnya: suatu saat,
Janji Manis-Janji Manis yang lain akan datang ke desa kita ini!”
“Aminnn..” sahut warga serentak,
riuh gemuruh, tangis dan harapan menjadi satu kesatuan—mengambang di antara
langit dan bumi.[]
Martapura|2018
*dimuat di Radar Banjarmasin
Komentar
Posting Komentar