Hidup Ini Babi Sekali Rasanya

Seekor babi baru saja tersadar dari tidur yang panjang—tentu ini hanya sekadar metafora, ia tidak tidur, ia hanya tersadar dari ketololan yang dideranya—matanya sendu dan ia sedang gelisah, atau juga lapar. entahlah. lapar dan gelisah susah sekali dibedakan. yang jelas ia tersadar akan satu hal: ia dilahirkan dari seorang ibu dan ayah yang babidan ia sendiri memang babi yang hakiki. tapi ia tidak terima menjadi babi—ia ingin jadi selain babi sebab ia merasa ia tidak punya jiwa menjadi babi. ia punya tubuh cebol, kepala besar dan leher pendek yang tebal, warna tubuhnya hitam keabu-abuan. ia babi, itu jelas sekali. tapi ia tak ingin jadi babi. ayah ibunya sering marah tak jelas jika ia bertanya-tanya soal apakah ia babi yang benar-benar babi atau cuma babi yang dibabi-babi-kan saja?

“tak peduli kau babi beneran atau cuma babi-babian, kau tetap babi sebab kedua orangtuamu adalah babi!” begitu hardik orangtuanya.


tokoh kita, si babi yang taki ingin jadi babi, yang kemudian merasa tolol kembali lantas berkata: ah, hidup, kadang memang terasa babi sekali.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Matinya Janji Manis

Kenapa Kita Tidak Ikut Berpesta?