Ulang tahun, Gunung, dan Seorang Kekasih yang Tergila-gila Pada Soe Hok Gie
Besok hari ulang tahunmu. Bersama kekasihmu, kau rayakan bertambahnya usia itu di puncak gunung yang pada hari-hari libur ramai tiada terkira—sebuah puncak gunung yang berubah menjadi tempat wisata keluarga. Tetapi besok Senin, tempat itu sedang sepi. Kekasihmu, dalam gelap malam yang luruh serupa dinding pemisah antara dunia orang lain dan dunia kalian berdua, memandangmu dalam tatap yang menusuk seraya memegang pisau. Kau menelan ludah.
***
Kalian duduk saling berhadapan di dalam tenda,
diiringi dengan manis oleh Joan Baez dari dalam ponsel kekasihmu—ia sungguh
menyukai Joan Baez karena lirik-liriknya yang bertemakan perjuangan, dan
terutama karena Soe Hok Gie juga menyukainya—di depan kalian kue tar terpampang
manis dengan lilin berbentuk usia yang kini kau capai. Senter menggantung malas di atas kalian. Remang cahayanya membentuk
suatu ikatan cinta dalam suasana sepi dan kelam. Kekasihmu melirik jam,
setengah jam lagi tengah malam tiba, tetapi di hatinya rasa sabar terbang sudah
ditiup angin pegunungan yang dingin tiada ampun. Kau tersenyum. Kekasihmu itu,
seorang perempuan gila perjuangan, kau temui tahun lalu di sebuah acara damai
memperjuangkan tanah adat dari eksplorasi tambang. Kau adalah satu dari banyak
orang yang ikut nimbrung dan gaduh—sejujurnya, kau ikut-ikutan saja karena
banyak dari teman-temanmu melakukannya. Itulah kala kau lihat perempuan itu,
rambutnya terhurai, pendek sebahu, kulitnya tidak seputih kebanyakan perempuan
lain, matanya bercahaya—ya, ini cuma menurutmu, tidak ada mata bercahaya di dunia
ini selain mata setan dan hantu—tubuhnya kecil mungil, suaranya lantang dan sedikit
cempreng, mukanya bulat dengan mata yang sama mungilnya dengan tubuhnya,
bibirnya tipis dan ketika pada suatu kesempatan ia tersenyum ke arahmu; kau
dibuat gila. Tidak ada alasan untuk tidak mencintai perempuan ini, katamu dalam
bisik penuh rahasia. Sementara, kau adalah laki-laki pendiam dan pengecut pula.
Kau tak berani mengajaknya berbincang—yang kau lakukan hanya diam-diam
memandangi perempuan itu dari kejauhan sambil sesekali beralih pandang ketika
tanpa sengaja ia melirik ke arahmu. Tetapi kau dapat whatsapp-nya, itu
lebih dari cukup. Dari sana, kau dekati dia serupa operator yang tiada henti
memberi pesan tanpa peduli kau dipedulikannya atau tidak. Dalam urusan cinta,
kau cukup ngotot—dan tolol. Itu pernah ia katakan ketika kali pertama kalian
bertemu. Ia sering membicarakan perjuangannya kepadamu, bercerita penderitaan
warga kelas bawah, korup pemerintah, tumpulnya mahasiswa, dan hal-hal semacam
itu yang tak begitu kau sukai. Jika ‘penyakitnya’ itu sudah kumat, kau hanya
memandang ke arah lain, sebuah pandangan kosong. Kekasihmu tentu saja mengerti
akan hal tersebut, dan dia lebih sering mengalah.
Kau tak suka naik gunung—juga
pantai. Kau lebih suka duduk di sebuah kafe menyesap kopi sambil menikmati
koneksi internet gratis berjam-jam lamanya. Jika sedang malas untuk nongkrong,
kau memilih menghabiskan waktu di dalam kamar, bertatap mesra dengan layar
komputer atau ponsel pintar, menjelajahi dunia dari satu media sosial ke media
sosial lain. Mengobrol dengan beberapa teman yang tak pernah benar-benar kau
kenal. Kau punya banyak teman di dunia palsu itu, teman yang jika kau sakit,
akan mendoakanmu lewat sebuah status media sosial mereka masing-masing.
Kekasihmu benci itu. Baginya itu omong kosong. Sebuah pertemanan tanpa
pertemuan adalah pembodohan terhadap diri sendiri. Pertemanan lazimnya bertatap
muka, pergi
bersama, tahu alamat rumah masing-masing, bukan semata saling mengobrol dalam
kolom chat, kata perempuan itu memberi ceramah.
Kamu terkekeh. Kita punya cara hidup
dan cara berteman masing-masing, katamu. Kekasihmu melunak. Ia bilang, ”Tetap
saja, suatu waktu kau harus keluar mencari teman yang benar-benar teman.”
“Nanti aku naik gunung,” ucapmu.
“Kapan?”
“Kalau kau ajak.”
“Tepat pada malam kamu ulang tahun?”
“Itu dua minggu lagi.”
“Masih lama.”
“Aku tidak yakin.”
“Harus yakin.”
“Berdua saja!”
“Hmm…baiklah!”
Malam ini, kalian sudah di sana, di
atas puncak gunung, didera gigil sebab sepoi angin begitu deras, suara bermacam
binatang dan gesekan pucuk pohon yang baru pertama kali kau dengar membuatmu
bergidik ngeri. Dan, kau menyesal.
***
“Orang-orang
seperti kita tidak pantas mati di tempat tidur,” mata kekasihmu memantulkan
suatu cahaya keemasan yang kau yakini hanya dapat dilihat oleh beberapa orang
saja, “itu kata Gie—“ dia memperlihatkan satu gambar dalam ponselnya, seorang
lelaki muda dengan mata sipit mempesona, “dia itu aktivis. Seorang mahasiswa…”
“Orang
seperti kita?” potongmu, “memangnya kita
seperti apa?”
Kekasihmu menepuk
jidat. Dia menarik napas. Mahasiswa, jawabnya. Kau mangguk. Kekasihmu geleng
kepala. Kali pertama kekasihmu menyukai Soe Hok Gie adalah saat ia menonton
film dari Riri Riza yang mengangkat kehidupan seorang aktivis sekaligus pecinta
alam itu. Film itu rilis tahun 2005, tetapi kekasihmu menonton jauh sesudah
itu, ia menonton karena salah seorang teman mahasiswa sesama aktivis lingkungan
memberitahu tentang seseorang bernama Gie dan menyarankan perempuan itu untuk
membaca buku-bukunya. Awalnya ia mencintai pemeran Gie
dalam film tersebut (Nicholas Saputra, dia mendapatkan penghargaan sebagai
aktor terbaik atas peran tersebut), lalu kemudian jatuh hati pada surat-suratnya
(terutama yang ditunjukkan Gie kepada kekasihnya—aku ingin menghabiskan
waktuku di sisimu sayangku—ah, betapa romantisnya surat itu baginya),
lalu kemudian ia mulai membaca Gie lebih jauh,
tentang perlawanannya, tulisannya,
idealisme-nya yang tiada roboh oleh badai apapun, kecintaannya pada gunung, akhir
hidupnya yang mengharukan di
puncak gunung sehari sebelum ia ulang tahun.
Perempuan itu juga menghias banyak hal dengan potret atau kata-kata dari Gie;
kaos, dinding kamar, layar ponsel, dan semua hal yang memungkinkan untuk
ditempeli stiker. Ya! Ia segila itu.
“Nasib terbaik
adalah tidak pernah dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan yang
tersial adalah yang berumur tua.”
“Kata Gie lagi?”
“Iya,” kekasihmu tersenyum
dan nampaklah gingsulnya—sejujurnya, ia manis sekali, tetapi kau sedang
jengkel, kau tidak mau memujinya.
“Kawin sana sama
Gie taik sialan
tersebut!”
Perempuan itu
cemberut. Ia berdiam diri. Tidak makan dan minum dan bicara atau apapun. Di saat marah, semua perempuan adalah sama pada akhirnya. Kau menyesali
perkataan kasar itu. Tapi, dua hari lagi kau rayakan ulang tahun, pikirmu.
Kau akan biarkan kekasihmu jengkel sampai hari itu untuk memberinya kejutan.
***
Itu pertengahan
tahun lalu ketika perempuan itu, beserta dengan teman-teman satu organisasinya,
menemani warga serta para petani mendemo satu perusahaan tambang untuk menuntut
ditutupnya aktivitas pertambangan bawah tanah mereka. Kekasihmu tergabung dalam
organisasi tersebut sejak semester satu—dari sanalah ia belajar banyak hal
tentang perlawanan dan membuka mata terhadap apa yang terjadi di sekitarnya.
Kau ingat awal-awal perkenalanmu dulu, kau dan dia sedang makan waktu itu, saat
itulah kalian melihat seorang preman, tak jauh dari tempat kalian duduk, sedang
menghajar penjual bakso keliling karena satu dan lain hal yang sejujurnya tak
kalian ketahui. Kekasihmu hendak mendatangi orang itu jika saja tak segera kau
cegah. Lalu dengan berapi-api kekasihmu membicarakan sesuatu yang tak pernah
masuk dalam kepalamu; perempuan itu membicarakan kejahatan negara dan dampak
panjang yang akan terjadi pada masyarakat, bahwa
kekerasan negara hadir karena para pembuat hukum dan keputusan tidak membatasi
kekuasaan, merasa bahwa negara ini adalah milik mereka hanya karena mereka lah
yang menjadi pemerintah, merasa bahwa dengan begitulah mereka punya
kesempatan untuk memperkuat dominasinya, baik itu dari segi politik atau
bisnis. Itulah kejahatan! Parahnya kejahatan tersebut nantinya, sambung
kekasihmu, akan menular pada masyarakat karena nurani
dan pikiran kritis mereka dilumpuhkan. Mereka
kehilangan tameng untuk tahu mana yang benar dan salah. Warga akan…sampai di
sana ia berhenti, perempuan itu sadar ia telah lupa diri, bahwa kau, laki-laki
dengan penampilan yang justru lebih rapi dari perempuan itu, tidak suka dengan
apa yang baru dan akan ia bicarakan.
Itulah
kekasihmu, perempuan yang kemudian bersama warga datang pada perusahaan tambang
untuk menolak keberadaan mereka.
Perusahaan tambang yang mereka
datangi itu sejak awal kehadirannya memang sudah meresahkan warga sekitar. Warga
tahu belaka bahwa tambang tidak akan baik ke depannya bagi kehidupan mereka.
Namun tambang itu berjalan juga, hingga dua tahun berlalu, warga sekitar mulai
merasakan dampak buruknya, tanah-tanah retak seakan terbelah, sumur dan sawah kekurangan
air membuat
banyak warga mengalami gagal panen. Dari sana, mereka mulai bergerak, mulai
mendemo, menyampaikan aspirasi mereka baik pada pejabat pemerintahan atau
kepada perusahaan tambang itu sendiri. Para warga
itu tak pernah digubris. Hal itulah yang kemudian merebut perhatian organisasi
kekasihmu untuk menemani warga di sana. Mereka berdialog, menyampaikan satu-dua
hal soal tambang dan yang lain, lalu bersama-sama merencanakan demo selanjutnya.
Tak pernah para mahasiswa itu memikirkan, atau mengajak warga, untuk berbuat rusuh.
Tidak sama sekali. Tetapi begitulah yang terjadi kemudian, tanpa bisa
dikendalikan oleh mahasiswa yang jumlahnya tak lebih dari dua puluh orang
tersebut, warga memaksa masuk ke kawasan pertambangan itu, mereka berhadapan
dengan aparat bersenjata, tanpa pernah diketahui pula oleh kekasihmu dan
kawan-kawannya, ternyata banyak dari warga yang membawa senjata tajam, bentrok fisik
terjadi, beberapa kali aparat melepaskan tembakan, suasana tidak terkontrol dan
seketika mencekam.
Satu setengah jam sesudahnya situasi
mulai kembali normal, warga bubar, banyak di antaranya bahkan terpaksa
dilarikan ke rumah sakit. Tidak ada siapapun yang dijadikan kambing hitam
selain para mahasiswa—mereka dituduh sebagai dalang dari demo dan rusuh itu.
Maka, dengan gencar para aparat mencari mereka, beberapa tertangkap, termasuk
ketua organisasi itu sendiri, tetapi kekasihmu tidak. Mereka, para mahasiswa
yang tersisa, lari melintasi semak dan sawah, sempat sembunyi di rumah-rumah warga
sekitar untuk beberapa malam dan kembali setelah semuanya dirasa cukup aman.
“Seharusnya pemerintah menyadari dampak yang
diterima masyarakat,” kata perempuan itu menyambung kisahnya, “itu kalau memang
mau mensejahterakan rakyat.” Ia
menyibak rambut bandel yang menganggu wajah, “Orang-orang wilayah tambang
tersebut adalah para petani, mereka butuh sawah.”
Kamu mengangguk bosan—matamu
memandang kosong penuh dengan berbagai hal selain cerita kekasihmu.
Ia diam sebentar.
“Itu menjadi satu kenangan yang
paling sulit atau malah tak mungkin kulupakan,” kata kekasihmu penuh semangat ketika
ia menyadari bahwa kau tak lagi memerhatikannya, “tapi itu bukan satu-satunya.” Ia melirikmu.
“Ada yang lain?” tanyamu
lemah—sebuah tanya yang kau gunakan untuk menutupi ketidakpedulianmu.
“Ya—“ ia menjawab pasti, “kau,” ia
menghentikan jawabannya, memberi jeda untuk melihat raut wajahmu yang sedatar
lapangan basket, “kau juga tak mungkin kulupakan,” ucapnya. Sejenak kemudian ia tertawa dan meludah, merasa jijik dengan apa yang baru saja ia
katakan.
Kau mengacak rambutnya.
***
Rencana itu sebenarnya hampir batal karena kekasihmu yang
jengkel membiarkan
ponselnya
berdering bahkan ratusan kali ketika pesan dan telepon darimu silih berganti masuk. Tetapi itu adalah hari ulang tahunmu. Kau
tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada hari istimewa tersebut. Maka dari
itu, kau menjemputnya, membawa sekotak martabak dan rayuan gombal demi gadis
manis tersebut. Perempuan adalah perempuan, meski dalam kemalasan dan rasa
jengkel yang begitu rupa menempel tiada pergi dari dirinya, ia tak tahan juga
dengan rayuan semacam itu. Ia menggangguk. Kamu tersenyum. Kalian pergi.
Dan kini kalian duduk saling
berhadapan di dalam tenda, napasmu
terengah. Hampir mati dibuat gunung yang bahkan tak lebih dari 1000 Mdpl dengan
tangga semen dan jalan semudah jalan setapak di lorong gang menuju indekos
milikmu.
Kekasihmu sudah normal, bahkan kelewat normal. Ia mulai kembali membicarakan apa yang selama ini ia sukai—itu ia
lakukan setelah melihat satu penambangan batu besi yang berada tak jauh dari kalian. Bahwa begitulah alam ini dapat dirusak oleh
kegilaan orang-orang kapitalis sialan yang hidup hanya untuk memperkaya diri.
Merusak bumi demi mendapatkan kebahagian sesaat. Perempuan itu terhanyut dalam
amarah yang tiada tertahan. Senter yang menggantung membuat wajahnya berkelebat
dalam terang dan gelap. Manis dan menjengkelkan.
“Ini hari ulang tahunku,” katamu sambil berusaha memeluknya, “tak bisakah kita saling merayu dengan bisik mesra dan sedikit
ciuman. Saling memeluk dan memberi kebahagiaan satu sama lain.” Kamu maju mendekatinya, menyisakan jarak
antara bibirmu dan perempuan itu tak lebih dari sepuluh inci. “Tak bisakah,”
kamu menarik napas seolah mengumpulkan amarah menjadi satu kata yang akan
membuat kekasihmu tersadar, “kau berhenti bicara tentang omong kosong-omong
kosong itu. Aku muak!”
Ia keluar secepat ia membereskan
barang bawaannya. Kamu menghentikannya dan tidak berhasil. Sejurus kemudian ia
telah berdiri nanar di sana, di bibir tebing curam yang berhias kerlap-kerlip
lampu tambang di kejauhan. Maaf, katamu, aku tak bermaksud begitu, aku hanya…kata-katamu
terhenti, cepat kau peluk tubuh kecil itu, mendekapnya penuh kasih untuk
membuatnya tenang dengan cara paling romantis yang bisa kau lakukan. Lagi, kau mendekatkan bibirmu ke bibirnya. Ia meronta. Jauh di atas sana
bulan menggantung memberi cahaya remang dan tenang. Suara-suara binatang itu
masih membuatmu khawatir. Malam bertambah malam. Beberapa menit lagi ulang
tahunmu tiba.
Perempuan itu terus berontak dalam pelukanmu. Kau tak ingin melepaskan. Ia teriak dan terisak. Lututnya bergerak cepat untuk menghajar
selangkanganmu. Sakit tiada ampun. Amarah menguasaimu. Kau balas dengan
menamparnya. Dalam gelap malam yang luruh serupa dinding pemisah antara dunia
orang lain dan dunia kalian berdua, ia memandangmu dalam tatap yang menusuk
seraya memegang pisau. Kau menelan
ludah. Perempuan itu begitu marah. Berbaur dengan
sepoi angin dan riuh pepohonan, kau mendengar kekasihmu berbisik penuh emosi; makhluk
kecil, kembalilah dari tiada ketiada!
Dan begitulah, semuanya selesai sampai di
sana.
*diterbitkan oleh Radar Banjarmasin

Komentar
Posting Komentar