Dilarang Anu...
Sore itu, di kampung Sudi Makmur, warga begitu ramai menyaksikan
perkelahian antara Supardi melawan Isur. Bagi sebagian orang, menyaksikan
perkelahian dua lelaki tua di tengah banjir yang melanda kampung mereka itu
adalah hiburan yang tak bisa dilewatkan. Sedangkan bagi sebagian yang lain,
perkelahian itu adalah tanda bahwa masalah yang kini menimpa mereka benar-benar
serius adanya.
“Pukul saja!”
Supardi, dengan tubuh gemuknya
nampak begitu kewalahan menghadapi Isur. Dan satu pukulan dari Isur akhirnya
berhasil mengenai pipi laki-laki berumur tiga puluh delapan tahun itu. Supardi
tersungkur, namun enggan menyerah begitu saja.
“Pukul! Pukul! Pukul!”
“Orang seperti itu
pantas dihukum!”
“Akui saja, pendapatku lah yang
benar,” teriak Isur.
“Benar, akui saja!” Beberapa warga
yang sependapat dengan Isur bersorak sorai sambil meneriakkan kata serupa.
“Tidak, kami yang benar!” ucap
sebagian warga yang sependapat dengan Supardi.
“Kalian kaum sesat!”
“Balas! Ayo balas!”
Mendengar itu, semangat Supardi kembali
tersulut. Ia bangkit, dan berniat melanjutkan perkelahiannya dengan Isur.
“Pukul! Pukul! Pukul!” Warga kembali
gaduh.
Perkelahian itu sebenarnya berawal
dari perdebatan sejak banjir mulai melanda kampung mereka kemarin pagi. Dan,
asal mula permasalahannya berakar dari sebuah WC Umum yang pada pintunya
bertuliskan; Dilarang Anu di WC Umum ini.
Apa arti Anu yang tertera pada pintu
itu?
Sejak pertanyaan itu muncul untuk
pertama kali di tengah masyarakat Sudi Makmur, maka sejak saat itu pula lah
setiap orang memiliki makna tersendiri dalam mengartikan Anu tersebut. Dan
sungguh pun yang kini tengah baku hantam hanyalah dua orang saja, tetapi ketahuilah
bahwa semua warga saling berdebat mengenai Anu pada imbauan pintu masuk WC
tersebut. Hanya saja, yang benar-benar getol mempertahankan pendapat hingga
berani beradu pukul memang hanya ada dua orang; Isur dan Supardi.
Supardi bangkit dengan tertatih.
Isur nampak bersiap dengan genggamnya.
“Berhenti! Berhenti!” cegat Badrun.
Isur dan Supardi terdiam. Para warga lekas menyoraki lurah yang sedang melerai
perkelahian itu.
“Sudah. Sudah! Hentikan! Ini masalah
serius. Jangan dianggap main-main,” ucap Badrun lantang kepada para warganya.
“Karena itulah kami ingin menyelesaikan
ini dengan serius,” teriak salah satu warga.
“Ya, jika salah satu dari mereka
menang, maka pendapatnya lah yang akan kami pakai,” warga yang lain ikut
bersuara.
“Kita bisa rundingkan masalah ini
dengan damai. Tidak perlu ada kekerasan.”
“Huuuu....” sahut warga serentak.
“Agar masalah ini tidak lagi menjadi
pemecah belah kita, ada baiknya kita bermusyawarah, di sini juga, sekarang
juga!” teriak lurah itu. Para warga dengan sedikit kesal kemudian mengiyakan
pendapat lurah mereka.
***
Kampung Sudi
Makmur masih senyap ketika air bah dari sungai perlahan meluap. Kampung yang
kebanyakan warganya adalah petani itu semula hanyalah lembah yang kemudian
berkembang menjadi perkampungan kecil seperti sekarang. Beberapa bulan sebelum
musim hujan datang, berdasarkan usul dari para warganya, lurah kampung Sudi
Makmur lekas membangun WC Umum untuk menghadapi banjir. Semula ada tiga WC yang
dibuat. Namun, sebelum banjir datang dua WC itu sudah rusak akibat ulah
orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Dan kini tinggallah satu WC Umum,
yang kemudian menjadi akar dari pecahnya warga Kampung Sudi Makmur.
Semestinya pagi
itu masih terlalu dini untuk memulai kegaduhan. Namun nampaknya hal itu tidak
berlaku bagi ibu-ibu yang tengah duduk di sebuah pelataran rumah yang sebentar
lagi tenggelam itu.
“Dilarang berjoget
di WC Umum,” ucap seorang ibu bertubuh gempal, mengartikan kalimat yang pagi
tadi ia temui.
“Bukan! Anu itu
berarti lama. Dilarang Anu di WC Umum berarti dilarang berlama-lama di WC Umum,”
balas kawannya.
“Dilarang Anu di WC
Umum artinya dilarang itu di WC Umum.” Seorang ibu muda ikut meramaikan.
Semula perdebatan itu hanya omongan
basa-basi untuk mengisi waktu kosong mereka. Namun perlahan warga kian banyak,
sehingga semakin banyak saja pendapat yang tak jarang menimbulkan gelak tawa
untuk mereka. Kalimat di WC Umum itu kian menyebar keseluruh warga kampung Sudi
Makmur. Dan pada malam pertama ketika banjir itu melanda, perdebatan nyeleneh
itu mulai tidak terkontrol.
“Kalimat itu berarti dilarang onani
di WC Umum,” ucap seorang berambut ikal dengan gerakan tangan seperti memasang
cincin ke jari tengahnya diikuti dengan gelak tawa yang lain.
“Kalimat itu berarti dilarang
membawa kitab suci ke WC Umum,” celoteh Isur dengan maksud melucu, namun
nampaknya hal itu tidak dianggap lucu oleh orang-orang.
“Hei, itu sudah keterlaluan!” ucap
Supardi berdiri. Semua warga diam, sebab mereka tahu siapa itu Supardi, orang yang tak pernah
main-main kalau menyoal agama. Namun agaknya kali ini Isur, orang yang selalu
tak pernah berpikir banyak kalau mau bicara itu, sudah kelewat menikmati
suasana sehingga lupa bahwa Supardi berada di sana.
“Aku cuma bercanda,” kata Isur
membela diri.
“Tapi itu keterlaluan!” Supardi kian
emosi.
“Tapi aku benar kan, kalau kita tak
boleh membawa kitab suci ke dalam WC Umum?” Isur dengan sikap tak mau kalahnya
kembali berulah.
“Benar, tapi itu tak boleh dijadikan
candaan. Haram!”
“Lantas apa menurutmu arti dari Anu?”
tanya warga yang lain kepada Supardi, mencoba mendamaikan suasana.
Mendengar itu wajah Supardi malah
memerah. “Kalian tahu, untuk menafsirkan sebuah kata, kita setidaknya punya
ilmu bahasa yang bagus, bukan sembarang orang bisa menafsirkan.” Supardi mulai menceramahi
orang-orang. “Kalau tak punya. Ya, seperti Isur ini jadinya, senonoh, akibatnya
malah menyesatkan. Haram!”
Semua warga bingung dengan apa yang
terjadi dengan Supardi. Bukan tentang apa yang ia sampaikan, melainkan sikapnya
yang menurut mereka terlalu kekanak-kanakan. Semua orang, terkecuali Supardi,
tahu bahwa perkataan Isur tentang kitab suci itu tak lebih dari candaan. Namun
entah mengapa, Supardi yang konon pernah berguru pada orang gaib ini menganggap
hal itu menjadi masalah yang harus dipermasalahkan dan dibesar-besarkan.
“Lantas kalau begitu, apa menurutmu
tafsiran dari Anu tersebut wahai tuan guru besar?” ucap Isur dengan nada
meledek.
“Sudah jelas artinya dilarang
berlama-lama, karena hal itu dapat mengundang setan untuk mengajak yang tidak-tidak,
misalnya onani!” Supardi masih dengan emosinya.
“Jadi menurutmu onani tidak boleh?”
ucap yang lain.
“Ya!”
“Kau mengada-ngada!” Isur menunjuk
muka lawan debatnya.
“Kau tidak punya ilmu,” balas
Supardi, tersudut.
“Kau pura-pura punya ilmu!”
Supardi bangkit dan memberikan
hadiah tamparan pada Isur seketika itu pula.
“Bangsat!” Isur membalas.
Semua warga bangkit dan melerai
mereka berdua. Perkelahian di tengah kampung yang sedang banjir itu untuk
sementara waktu berhenti cukup di situ.
Di pagi buta
keesokan harinya, orang-orang sudah ribut membicarakan perkelahian Isur dan
Supardi. Parahnya, para warga seakan terpisah menjadi dua kelompok yang saling
berlawanan; satu kelompok mendukung Supardi dan yang lain mendukung Isur.
“Karena kami
pikir, banjir yang sedang melanda dan kurangnya fasilitas WC Umum seperti
sekarang ini adalah alasan mengapa berlama-lama di WC Umum hukumnya haram,”
kata seorang pendukung Supardi saat menyatakan pendapatnya kepada Isur.
“Tidak! Aku tidak
setuju dengan pendapat itu!” balas Isur dan pendukungnya. “Supardi terlalu
mengada-ngada, bahkan kami yakin ia pun tak tahu siapa penulis kalimat di WC
Umum itu sesungguhnya.”
“Memang kau tahu?”
ucap pemilik warung kopi seraya menyerahkan kopi pesanan Isur.
Isur hanya diam
dan menyeruput kopinya.
“Huu....” cemooh
kaum Supardi.
Isur dan kaumnya
yang terpancing amarah lantas menyerang kaum Supardi beserta pemilik warung
kopi tersebut, dan tentu saja mereka semua babak belur oleh kaum Isur yang
berjumlah dua kali lipat.
Sejak pagi itu
kemudian kampung Sudi Makmur menjadi riuh memperdebatkan Anu, di warung kopi,
di pelataran, dan di dalam musala sekalipun. Secara garis besar kini kampung
itu terbagi menjadi dua kelompok, keduanya sama beraliran anarkis dan
membahayakan. Dan Badrun, yang sebagai pemimpin kampung itu, pun tak bisa
berbuat banyak.
Barangkali sebab kebanjiran itulah
para warga berpikir anarkis dan sering beda pendapat, Badrun membatin.
***
“Ada baiknya kita
rumuskan dulu benar-benar apa maksud dari Anu tersebut agar kita semua
sepaham,” kata Badrun yang mulai jengah dengan musyawarah alot sore itu.
Ditambah lagi dalam musyawarah yang diadakan secara mendadak itu banyak
pendapat-pendapat baru bermunculan yang tidak sama dengan Isur dan Supardi.
“Saya setuju
dengan Supardi yang mengatakan artinya jangan berlama-lama.”
“Tidak, saya rasa
yang benar adalah dilarang berduaan di WC Umum.”
“Dilarang onani di
WC Umum.”
Tiap-tiap warga di
kampung Sudi Makmur berebut menjadi penafsir dalam perumusan makna Anu, kalimat
tersebut seakan menjadi semacam ayat dari kitab suci yang harus ditafsirkan
secara rinci.
Dan, Sebagaimana tafsir-tafsir kitab
suci, kalimat yang tertera pada pintu WC Umum itu menjadi beragam artinya.
Setiap warga punya suara, setiap orang kini mengaku-ngaku menjadi seorang
penafsir yang ulung. Setiap orang punya Anu-nya sendiri.
“Cukup!” teriak lantang
sang pemimpin musyawarah. “Kita harus sepakat agar masalah ini tidak lagi
memecah belah kita.”
“Bakar saja,”
teriak salah seorang di antara peserta musyawarah itu.
Hening. Semua
orang berbisik-bisik.
“Ya, bakar saja,
agar masalah ini selesai,” ucap Isur.
“Ya, ada baiknya
memang dibakar,” Supardi bersuara.
“Ya bakar saja.”
“Bakar! Bakar!
Bakar!”
Lalu kerumunan itu
bergerak menuju lokasi WC Umum sambil berteriak. “Bakar! Bakar! Bakar!”
Dan memang pada akhirnya, disaksikan
oleh semua warga Kampung Sudi Makmur, WC satu-satunya yang bisa dipakai ketika
banjir melanda itu dibakar oleh Badrun dengan alasan untuk menyatukan kembali
warganya. Semula memang ia menolak pendapat itu, menurutnya bisa saja dengan
menghapus saja kalimat itu dan masalah selesai. Namun warga tidak setuju. Sebab
menurut mereka bisa jadi nantinya ada oknum-oknum yang sengaja menulis lagi
kalimat itu guna memecah belah mereka.
Asap membumbung
naik menuju langit. Para warga berteriak menyerukan kemenangannya
masing-masing. Dipimpin oleh Isur dan Supardi, dua kelompok yang semula
berlawanan kini asik bersalam-salaman. Sementara itu, tak jauh dari tempat
mereka berkumpul, seorang anak gadis berselendang handuk sedang memegang
perutnya yang sedari tadi sakit, ia bingung harus kemana lagi mencari tempat
untuk buang hajat.[]
Martapura/22 Januari 2018
*dimuat di Radar Banjarmasin
Komentar
Posting Komentar