Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2019

Dilarang Anu...

Sore itu, di kampung Sudi Makmur, warga begitu ramai menyaksikan perkelahian antara Supardi melawan Isur. Bagi sebagian orang, menyaksikan perkelahian dua lelaki tua di tengah banjir yang melanda kampung mereka itu adalah hiburan yang tak bisa dilewatkan. Sedangkan bagi sebagian yang lain, perkelahian itu adalah tanda bahwa masalah yang kini menimpa mereka benar-benar serius adanya.             “Pukul saja!” Supardi, dengan tubuh gemuknya nampak begitu kewalahan menghadapi Isur. Dan satu pukulan dari Isur akhirnya berhasil mengenai pipi laki-laki berumur tiga puluh delapan tahun itu. Supardi tersungkur, namun enggan menyerah begitu saja. “Pukul! Pukul! Pukul!”             “Orang seperti itu pantas dihukum!” “Akui saja, pendapatku lah yang benar,” teriak Isur. “Benar, akui saja!” Beberapa warga yang sependapat dengan Isur bersorak sorai sambil meneriakkan kata se...

Matinya Janji Manis

Usai sudah, Janji Manis, gadis cantik yang dipuja-puja itu, kini telah tiada. Dia mengembuskan napas terakhirnya pagi ini di rumah Pak Kepala Desa Harapan Maju, dengan tubuh yang mendadak menjadi kuning langsat, sedikit peluh nampak pada ujung hidung dan dahinya, wajahnya teduh dan menenangkan. Gadis berambut hitam jelaga itu mati dengan satu senyum yang begitu memesona, manis dan memabukkan, tubuhnya harum melati, semerbak berembus ke berbagai arah dalam radius yang amatlah jauh.             Kalau boleh protes, maka tentulah mereka, para warga Desa Harapan Maju itu, akan mengadakan protes kepada Tuhan bersama-sama dengan berbagai macam persembahan apa pun yang Dia inginkan. Mengapa Dia mematikan gadis itu? Mengapa harus secepat ini? Adakah Dia tak sayang kepada warga desa itu sehingga dengan begitu tega mematikan pelita di antara mereka?             Tapi, kata seorang le...

Hidup Ini Babi Sekali Rasanya

Seekor babi baru saja tersadar dari tidur yang panjang—tentu ini hanya sekadar metafora, ia tidak tidur, ia hanya tersadar dari ketololan yang dideranya —matanya sendu dan ia sedang gelisah, atau juga lapar. entah lah . lapar dan gelisah susah sekali dibedakan. yang jelas ia tersadar akan satu hal: ia dilahirkan dari seorang ibu dan ayah yang babi — dan ia sendiri memang babi yang hakiki. tapi ia tidak terima menjadi babi—ia ingin jadi selain babi sebab ia merasa ia tidak punya jiwa menjadi babi. ia punya tubuh cebol , kepala besar dan leher pendek yang tebal , warna tubuhnya hitam keabu-abuan. ia babi, itu jelas sekali. tapi ia tak ingin jadi babi. ayah ibunya sering marah tak jelas jika ia bertanya-tanya soal apakah ia babi yang benar-benar babi atau cuma babi yang dibabi-babi-kan saja? “tak peduli kau babi beneran atau cuma babi-babian, kau tetap babi sebab kedua orangtuamu adalah babi!” begitu hardik orangtuanya. tokoh kita, si babi yang tak i ingin jadi babi, yang kemu...

Ulang tahun, Gunung, dan Seorang Kekasih yang Tergila-gila Pada Soe Hok Gie

Gambar
Besok hari ulang tahunmu. Bersama kekasihmu, kau rayakan bertambahnya usia itu di puncak gunung yang pada hari-hari libur ramai tiada terkira—sebuah pu n cak gunung yang berubah menjadi tempat wisata keluarga. Tetapi besok S enin, tempat itu sedang sepi. Kekasihmu, dalam gelap malam yang luruh serupa dinding pemisah antara dunia orang lain dan dunia kalian berdua, memandangmu dalam tatap yang menusuk seraya memegang pisau. Kau menelan ludah.

Kenapa Kita Tidak Ikut Berpesta?

Baiklah. Kisah ini akan berakhir dengan seorang anak perempuan yang menangis dan memutuskan untuk membenci ibunya, sebab, meski ia bukan anak tiri dan tak punya dua kakak tiri yang jahat, ia tetap tidak dibolehkan oleh ibunya untuk pergi ke sebuah pesta—sebenarnya anak perempuan itu tak tahu siapa yang mengadakan pesta, mungkin pangeran, raja, orang-orang kaya atau entahlah dia tidak peduli, yang jelas, pesta itu adalah sebuah pesta yang sangat besar, melibatkan semua orang di negerinya. Dan dalam sebuah pesta, pesta apa pun itu, harus dirayakan dengan riang gembira, pikirnya.             “Sepatu kaca!” teriak anak itu kepada ibunya setelah puluhan kali atau bahkan ratusan kali sudah ia mem inta hal yang sama. Wajahnya cemberut, kesal bukan main, dan sebagaimana anak kecil yang permintaannya tak kunjung di iyakan oleh si ibu, ia pun menangis, tangis cengeng dan memuakkan bagi telinga ibunya. Dia, Si Anak Perempuan, kita pangg...