Perkabungan untuk Cinta yang Salah #1
#puisi Kota sedang basah dilanda hujan akhir tahun, deru hujan bersahut dari segala arah, kilat menyambar dan langit seakan runtuh. Di satu pojok kota yang dingin itu, pada sebuah café yang sunyi pengunjung, seorang wanita menjatuhkan tatapnya pada pekat kopi. Sendirian. Kesepian. Sesekali ia edarkan matanya pada hujan di balik jendela kaca dan membayangkan ia berada di sana, berlari, menari, menikmati tetes hujan yang dingin, tertawa atau menangis, lalu pulang dengan baju basah sambil menghirup petrichor yang membius. Wanita itu begitu menyukai hujan, tetapi entah mengapa setiap kali ia menyerahkan diri pada basahnya, ia akan menjerit sakit kemudian—tubuhnya akan menggigil. Kepala serta seluruh tubuhnya panas tak keruan. “Hujan selalu menyakiti betapapun aku mencintainnya,” lirih perempuan itu. Ia melirik laptop yang menampilkan layar putih tanpa kata. Seharusnya ada satu atau dua kalimat puisi di sana. Tapi, malam itu, kata-kata itu luruh basah dan men...