Postingan

Perkabungan untuk Cinta yang Salah #1

Gambar
#puisi Kota sedang basah dilanda hujan akhir tahun, deru hujan bersahut dari segala arah, kilat menyambar dan langit seakan runtuh. Di satu pojok kota yang dingin itu, pada sebuah café yang sunyi pengunjung, seorang wanita menjatuhkan tatapnya pada pekat kopi. Sendirian. Kesepian. Sesekali ia edarkan matanya pada hujan di balik jendela kaca dan membayangkan ia berada di sana, berlari, menari, menikmati tetes hujan yang dingin, tertawa atau menangis, lalu pulang dengan baju basah sambil menghirup petrichor yang membius. Wanita itu begitu menyukai hujan, tetapi entah mengapa setiap kali ia menyerahkan diri pada basahnya, ia akan menjerit sakit kemudian—tubuhnya akan menggigil. Kepala serta seluruh tubuhnya panas tak keruan. “Hujan selalu menyakiti  betapapun   aku mencintainnya,” lirih perempuan itu. Ia melirik laptop yang menampilkan layar putih tanpa kata. Seharusnya ada satu atau dua kalimat puisi di sana. Tapi, malam itu, kata-kata itu luruh basah dan men...

Pentingkah Membaca Sebelum Ikut Aksi Massa?

Gambar
Pentingkah Membaca sebelum ikut aksi massa Kamis (26/09/19, jam 12:10, dari arah belakang para demonstran, saya melihat anak-anak pelajar merangsak maju ke depan, para mahasiswa yang berada di hadapan mereka segera membuka jalan demi membiarkan para pelajar itu bisa maju ke depan agar para wakil rakyat dapat melihat bahwa demonstrasi itu, seperti juga yang banyak terjadi di banyak daerah lain di Indonesia ini, tidak hanya dilakukan oleh para mahasiswa, tetapi juga bahkan yang lebih muda dari itu—adik-adik sekolah menengah. Demi melihat itu, para mahasiswa yang lebih dulu berada di tempat demonstrasi itu dilakukan langsung berteriak dan bertepuk tangan. Saya tercengang—seolah baru saja terbangun dari tidur yang begitu saya impikan siang itu.

Saya, Papua, Warna Kulit dan Rasisme

Gambar
Saya bukan orang Papua, saya bahkan tak pernah bertemu dengan satu pun dari mereka, tetapi pada 16 Agustus 2019 lalu, sehari sebelum Indonesia merayakan hari kemerdekaannya, ketika beberapa (oknum) ormas melakukan aksi penyerangan terhadap Asrama Mahasiswa Papua di Surabaya dengan meneriaki mereka monyet, saya sungguh sakit hati. Jika ada sebuah alat untuk mengukur kadar sakit hati di dunia ini, maka saya pastikan bahwa sakit hati yang saya rasakan tidak sebanding dengan apa yang teman-teman dari Papua rasakan. Tetapi  sakit hati tidak mengenal sedikit banyak , ia tetap saja menyesakkan dan membuat gerah. Di antara teman-teman sepergaulan barangkali saya adalah orang yang memiliki kulit paling hitam, sumpah mati saya tidak tahu mengapa kulit saya hitam sebagaimana saya tidak mengetahui mengapa mereka punya kulit yang putih. Sebab warna kulit itulah dari kecil saya sering dicaci, entah itu dihina dengan nada bercanda atau serius—semua sama saja. Bahkan dulu, saat umur s...

Semua Mantan Kekasih Layak Berbahagia

Gambar
Sha, aku ingin memberimu seluruh bahagiaku ketika kau berkata ingin membunuh kesedihan. Tetapi seperti juga kamu, bahagiaku ternyata hanyalah kepalsuan yang kubuat-buat untuk menipu diri. Kita memang sama saja; dua orang yang ditinggalkan dan ditanggalkan. Aku tak bisa menghiburmu kecuali jadi pendengar dan manusia sok tahu. Aku menjadi palsu untukmu. Bagiku, kamu adalah cermin, aku berbicara pada pantulanku sendiri. Pertama, dan mungkin satu-satunya; menangislah bila kau ingin menangis—tak ada yang salah dari mengeluarkan air mata. Kau perlu memberi sedikit waktu untuk dirimu agar tak selalu berpura-pura—aneh, padahal dalam menyampaikan ini pun aku berpura-pura. Menangislah seperti yang sering dan tengah kulakukan; sambil mendengarkan radio memutarkan lagu-lagu paling menyedihkan, dengannya aku sering jatuh ke dasar penyesalan dan kemarahan. Kubiarkan radio menyala, menemani tangisku sampai akhirnya kami sama-sama terdiam—jam dua dinihari. Setiap manusia punya cara dan dur...

Dilarang Anu...

Sore itu, di kampung Sudi Makmur, warga begitu ramai menyaksikan perkelahian antara Supardi melawan Isur. Bagi sebagian orang, menyaksikan perkelahian dua lelaki tua di tengah banjir yang melanda kampung mereka itu adalah hiburan yang tak bisa dilewatkan. Sedangkan bagi sebagian yang lain, perkelahian itu adalah tanda bahwa masalah yang kini menimpa mereka benar-benar serius adanya.             “Pukul saja!” Supardi, dengan tubuh gemuknya nampak begitu kewalahan menghadapi Isur. Dan satu pukulan dari Isur akhirnya berhasil mengenai pipi laki-laki berumur tiga puluh delapan tahun itu. Supardi tersungkur, namun enggan menyerah begitu saja. “Pukul! Pukul! Pukul!”             “Orang seperti itu pantas dihukum!” “Akui saja, pendapatku lah yang benar,” teriak Isur. “Benar, akui saja!” Beberapa warga yang sependapat dengan Isur bersorak sorai sambil meneriakkan kata se...

Matinya Janji Manis

Usai sudah, Janji Manis, gadis cantik yang dipuja-puja itu, kini telah tiada. Dia mengembuskan napas terakhirnya pagi ini di rumah Pak Kepala Desa Harapan Maju, dengan tubuh yang mendadak menjadi kuning langsat, sedikit peluh nampak pada ujung hidung dan dahinya, wajahnya teduh dan menenangkan. Gadis berambut hitam jelaga itu mati dengan satu senyum yang begitu memesona, manis dan memabukkan, tubuhnya harum melati, semerbak berembus ke berbagai arah dalam radius yang amatlah jauh.             Kalau boleh protes, maka tentulah mereka, para warga Desa Harapan Maju itu, akan mengadakan protes kepada Tuhan bersama-sama dengan berbagai macam persembahan apa pun yang Dia inginkan. Mengapa Dia mematikan gadis itu? Mengapa harus secepat ini? Adakah Dia tak sayang kepada warga desa itu sehingga dengan begitu tega mematikan pelita di antara mereka?             Tapi, kata seorang le...

Hidup Ini Babi Sekali Rasanya

Seekor babi baru saja tersadar dari tidur yang panjang—tentu ini hanya sekadar metafora, ia tidak tidur, ia hanya tersadar dari ketololan yang dideranya —matanya sendu dan ia sedang gelisah, atau juga lapar. entah lah . lapar dan gelisah susah sekali dibedakan. yang jelas ia tersadar akan satu hal: ia dilahirkan dari seorang ibu dan ayah yang babi — dan ia sendiri memang babi yang hakiki. tapi ia tidak terima menjadi babi—ia ingin jadi selain babi sebab ia merasa ia tidak punya jiwa menjadi babi. ia punya tubuh cebol , kepala besar dan leher pendek yang tebal , warna tubuhnya hitam keabu-abuan. ia babi, itu jelas sekali. tapi ia tak ingin jadi babi. ayah ibunya sering marah tak jelas jika ia bertanya-tanya soal apakah ia babi yang benar-benar babi atau cuma babi yang dibabi-babi-kan saja? “tak peduli kau babi beneran atau cuma babi-babian, kau tetap babi sebab kedua orangtuamu adalah babi!” begitu hardik orangtuanya. tokoh kita, si babi yang tak i ingin jadi babi, yang kemu...