Perkabungan untuk Cinta yang Salah #1
#puisi
Kota sedang basah dilanda hujan akhir tahun, deru hujan bersahut dari segala arah, kilat menyambar dan langit seakan runtuh. Di satu pojok kota yang dingin itu, pada sebuah café yang sunyi pengunjung, seorang wanita menjatuhkan tatapnya pada pekat kopi. Sendirian. Kesepian. Sesekali ia edarkan matanya pada hujan di balik jendela kaca dan membayangkan ia berada di sana, berlari, menari, menikmati tetes hujan yang dingin, tertawa atau menangis, lalu pulang dengan baju basah sambil menghirup petrichor yang membius. Wanita itu begitu menyukai hujan, tetapi entah mengapa setiap kali ia menyerahkan diri pada basahnya, ia akan menjerit sakit kemudian—tubuhnya akan menggigil. Kepala serta seluruh tubuhnya panas tak keruan.
“Hujan selalu menyakiti betapapun aku mencintainnya,” lirih perempuan itu.
Ia melirik laptop yang menampilkan layar putih tanpa kata. Seharusnya ada satu atau dua kalimat puisi di sana. Tapi, malam itu, kata-kata itu luruh basah dan mengalir ke lain arah. Wanita itu menyesap kopinya, menutup mata berharap inspirasi datang dengan tiba-tiba, tapi itu tak terjadi, setidaknya sampai ia menghabiskan satu gelas kopi dan memesan gelas yang lain untuk kedua kalinya.
Aisha, perempuan itu, jika kau tinggal di kota B—sebuah kota yang tak terkenal namanya—dan sering menghabiskan malam untuk menikmati kopi, entah itu di café atau tempat kopi angkringan, kau mungkin pernah sekali waktu berjumpa dengannya. Rambutnya pendek sebahu, matanya agak sipit dengan kacamata yang nampak lebih besar dari mukanya, tubuhnya kecil tapi tak kurus dengan kulit yang tak putih-putih amat. Biasanya setiap kali keluar rumah ia selalu membawa totebag putih berisi laptop, buku-buku puisi, pulpen serta buku tulis jelek bersampul merah berisi sekumpulan kata-kata pendek yang ia tulis di atas struk pembelanjaan dan ditempel di buku tersebut. Tak seorang pun tahu apa tujuannya—sebab memang tak pernah ada yang tahu isi buku itu selain dirinya. Selebihnya, selain benda-benda itu, di dalam tas tersebut juga terdapat struk-struk pembelanjaan yang belum ia tempel ke buku, charger laptop dan ponsel.
Setelah beberapa saat menatap layar putih itu, Sha, panggilan perempuan itu, melirik ponselnya yang ia letakkan tak jauh dari laptop. Pada layar ponsel tersebut mampak malam telah sampai pukul 21:39. Aku harus pulang, batinnya. Ia menghidupkan koneksi internet, beberapa pesan masuk, salah satunya dari teman satu kosnya yang minta belikan nasi goreng jika perempuan itu pulang sebelum jam sepuluh. Ada banyak pesan selain itu, tapi pesan yang Sha tunggu tak pernah datang, seperti juga hari-hari yang lalu.
Sha mengambil headset dari kantong jaket dan memilih untuk memutar lagu Jikustik berjudul Puisi dengan volume rendah, ia ingin mendengarkan musik dan tak ingin meninggalkan deru hujan. Selama dua jam sebelum hujan sepenuhnya berhenti, perempuan itu terus mendengarkan lagu yang sama dengan sesekali meneteskan air mata untuk masa lalu yang ia benci dan sayangkan. Di depannya laptop masih utuh menampilkan layar putih tak tersentuh, kopi telah sampai pada bagian terakhirnya. Ia menggelengkan kepala, itu adalah hari kesekian ia tak dapat menulis sejak kejadian menyakitkan yang menimpanya enam bulan lalu. Ia memejamkan mata sebentar, membuka buku puisi, mencari kata, berusaha meninggalkan luka—dan menyerah pada akhirnya. Ia lihat ke luar dan memastikan hujan tak akan turun lagi untuk sementara setidaknya sampai ia pulang ke kosnya yang tak jauh dari tempat ia menghabiskan malam tersebut. Sha menutup laptop. Sesaat sebelum ia memasukkan laptop ke dalam tas, ia mengambil struk pembelanjaan dan buku tulis kesayangannya. Setelah beberapa detik ia kemudian menulis sepatah kata di sana: segeralah mati kenangan!

Hujan ya hmm
BalasHapusHujan itu kuat