Semua Mantan Kekasih Layak Berbahagia


Sha, aku ingin memberimu seluruh bahagiaku ketika kau berkata ingin membunuh kesedihan. Tetapi seperti juga kamu, bahagiaku ternyata hanyalah kepalsuan yang kubuat-buat untuk menipu diri. Kita memang sama saja; dua orang yang ditinggalkan dan ditanggalkan. Aku tak bisa menghiburmu kecuali jadi pendengar dan manusia sok tahu. Aku menjadi palsu untukmu.

Bagiku, kamu adalah cermin, aku berbicara pada pantulanku sendiri.

Pertama, dan mungkin satu-satunya; menangislah bila kau ingin menangis—tak ada yang salah dari mengeluarkan air mata. Kau perlu memberi sedikit waktu untuk dirimu agar tak selalu berpura-pura—aneh, padahal dalam menyampaikan ini pun aku berpura-pura.

Menangislah seperti yang sering dan tengah kulakukan; sambil mendengarkan radio memutarkan lagu-lagu paling menyedihkan, dengannya aku sering jatuh ke dasar penyesalan dan kemarahan. Kubiarkan radio menyala, menemani tangisku sampai akhirnya kami sama-sama terdiam—jam dua dinihari.

Setiap manusia punya cara dan durasi kesedihannya masing-masing. Aku tak tahu berapa lama kau harus tenggelam, tetapi kutahu, kau akan bangkit, pasti, suatu saat. Bukan soal apakah itu akan datang secepat kilat atau selambat datangnya hujan pada musim kemarau, yang pasti ia akan datang, dan semuanya tergantung pada dirimu memperlakukan kesedihan itu—tak ada yang tahu selain dirimu sendiri.

Tak adil, katamu, kenapa dia yang menyakiti justru mendapatkan bahagia lebih cepat dari dirimu.

Aku mengangguk. Aku tak ingin memberimu ceramah sebenarnya—aku hanya ingin mendengarkanmu berkeluh kesah tentang dirinya sebagaimana seharusnya.

Tapi biar kutanyakan padamu, Sha, apakah takaran keadilan Tuhan adalah tentang siapa yang lebih dulu berbahagia?

Tentu kau lebih tahu jawabannya, aku tak mengenal Tuhan sebaik kau mengenalnya.

Selain itu, bagaimanapun, mantan kekasih pernah membuatmu bahagia pada suatu hari di masa lalu—dialah orang yang kerap membuatmu tersenyum sendiri, dia pernah jadi orang yang paling kau inginkan adanya ketika bangun di pagi hari, dia pernah jadi alasanmu untuk berbahagia. Ingatlah itu untuk menyeimbangkan ingatan burukmu tentangnya.

Pada akhirnya, mau tak mau, semua mantan kekasih layak berbahagia dengan caranya sendiri-sendiri—dia barangkali dengan kekasih barunya, dan kau dengan masa depanmu sendiri.

Menangislah, Sha, menangislah sampai tak ada setetes pun air mata yang tersisa dalam dirimu kecuali tawa riang menggemaskan itu.

Lalu, berbahagialah ;)

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Matinya Janji Manis

Kenapa Kita Tidak Ikut Berpesta?

Hidup Ini Babi Sekali Rasanya